GP China merupakan balapan yang sangat seru disertai dengan hujan dan banyak aksi overtaking.
Grand Prix China merupakan balapan dimana isu diffuser bertingkat (double decker diffuser) yang dikembangkan oleh Brawn GP, Toyota dan Williams telah resmi dilegalkan oleh FIA. Implikasi dari keputusan ini membuat tim lainnya mengembangkan jenis diffuser yang serupa misalnya Mclaren dan Renault. Tak ketinggalan Red Bull Racing yang rancangan diffuser nya semula ditolak oleh FIA.
Kualifikasi pada tanggal 18 April 2009 sangat mengejutkan. Hasil kualifikasi pada hari sabtu menempatkan Sebastian Vettel pada pole position diikuti oleh Fernando Alonso dari Renault. Posisi 3 ditempati oleh rekan setim Vettel yaitu Mark Webber. Sedangkan juara 2 seri sebelumnya yaitu Jenson Button hanya menempati posisi ke lima dibelakang rekan setimnya Rubens Barichello yang menempati posisi ke empat. Ini merupakan pole position yang pertama kali bagi tim Redbull selama mengikuti balapan jet darat.
Bila pada 2 balapan sebelumnya grid biasanya dikuasai oleh 3 tim yang pertama kali mengembangkan diffuser, yaitu BGP, Toyota dan Williams, kini persaingan diramaikan oleh 1 tim baru yaitu Red Bull Racing (RBR) dan tanpa tanggung-tanggung, tim ini langsung menempatkan 2 pembalapnya di posisi 3 besar.
Start dilakukan pada cuaca yang tidak begitu baik. Hujan yang cukup deras membuat flying start harus dilakukan di belakang safety car. Beberapa pembalap (Massa, Sutil dan Raikkonen) sempat spin dan keluar trek karena sirkuit yang sangat licin walaupun masih dalam keadaan safety car.
Pada lap 6 Alonso masuk pit karena bahan bakar yang dibawa saat start sangat ringan sehingga ia perlu mengisi bahan bakar kembali dan akibatnya Alonso kehilangan posisi 2 nya.
Safety car keluar dari sirkuit pada lap 9 dan balapan sebenarnya pun dimulai. Posisi saat start normal adalah tetap Vettel terdepan diikuti Webber, Barichello, Button, Truli, Raikkonen, Hamilton dan Buemi. Hamilton yang merupakan pembalap yang jago pada saat hujan benar-benar menunjukkan memperlihatkan dirinya sebagai rainmaster. Hamilton langsung menyalip Raikkonen dan Trulli sehingga berada pada posisi P5. Pada lap 11 Button berhasil memperbaiki posisinya menjadi P3 setelah berhasil menyalip rekan setimnya Barichello.
Balapan menjadi semakin tak terprediksi akibat hujan yang terus mengguyur trek, banyak sekali aksi overtaking yang terjadi akibat kesalahan-kesalahan yang terjadi karena sirkuit yang licin dan banyaknya standing water. Hamilton spin dan keluar trek namun dapat kembali melanjutkan balapan, Hamilton kehilangan 4 posisi menjadi P9 akibat spin tersebut.
Bila Hamilton disebut-sebut sebagai jago hujan, begitu pula halnya dengan Sebastian Vettel yang memimpin balapan dengan tenangnya dan sungguh cepat, tanpa cela. Vettel masuk pit pada lap 15 dan kembali keluar pada posisi 3 di belakang Button dan Barichello, sedangkan Webber telah masuk pit sebelumnya dan berada di posisi 4.

Pada lap 18, tiba-tiba Kubica tidak dapat mengontrol mobilnya dan menyodok bagian belakang mobil Trulli dengan sangat dahsyat dan membuat Trulli retire sedangkan Kubica masih berhasil masuk ke pit untuk mengganti sayap depan mobilnya yang hancur berkeping-keping. Safety car pun dikeluarkan ke sirkuit, hal ini akan sangat menguntungkan Vettel yang saat itu berada di posisi 3 karena Button belum masuk pit yang pertama karena secara otomatis jarak yang dibangun oleh Button akan menjadi sangat dekat dengan keluarnya safety car dimana semua pembalap tidak boleh saling menyalip dan berjalan lambat. Namun sepertinya Button masih dinaungi nasib baik ditambah dengan kemampuan tim BGP membaca situasi, ia pun masuk pit tepat ketika safety car dikeluarkan, dan ia pun kembali berada di posisi 3 di belakang Sebastian Vettel. Read more »